Senin, 09 Juni 2008

Bangunan Hemat Energi

Hemat energy…sadar atau tidak arsitektur, dalam hal ini operasional bangunan, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam konsumsi energy. Dan keputusan disain yang dilakukan oleh seorang arsitek menentukan boros atau tidaknya konsumsi tersebut. Apa saja konsumsi energy dalam sebuah bangunan. Yang pertama adalah penerangan, penerangan bisa didapat secara alami atau buatan. Alami artinya arsitek memutuskan disain bangunannya dapat memasukkan cahaya alami siang hari sebesar yang dibutuhkan kegiatan di dalamnya, biasanya dengan jendela, skylight, dll. Buatan tentu saja menggunakan listrik, berupa lampu-lampu sesuai kebutuhan kegiatan di dalamnya, sesuai kegiatan di dalamnya artinya tidak berlebihan prioritas adalah fungsi kemudian dipadukan dengan estetis. Yang kedua suhu, menjaga kestabilan suhu di dalam bangunan sesuai dengan tingkat kenyamanan yang diinginkan. Bisa dilakukan denganpenggunaan material yang menyerap panas sehingga suhu di dalam bangunan tidak panas pada siang hari atau sebaliknya. Kenyamanan ini juga di dapat dengan aliran udara yang baik. Aliran udara yang baik artinya mengalir menembus bangunan,salah satu usaha untuk membuat kondisi ini adalah dengan bukaan-bukaan. Yang ketiga penggunaan alat-alat rumah tangga. Sarana hiburan seperti tv, audio video, dll atau life support seperti lemari es, kompor listrik, pemanas air,dll. Point ini membutuhkan kedisiplinan pengguna bangunan untuk efisiensi operasional bangunan.
Namun begitu hal-hal yang saya sebutkan diatas tidak berarti menjadi anti terhadap barang-barang tersebut atau anti teknologi. Teknologi digunakan secara tepat guna, penerangan buatan tetap kita perlukan namun benar-benar digunakan pada saat dibutuhkan, lalu perletakannya dengan memikirkan estetik,jadi kita tidak membuat panggung pertunjukan di rumah kita, begitu pula AC membantu hanya disaat-saat tertentu kita aliran udara sedang tidak baik atau panas yang berlebihan, dan banyak lagi.
Sedangkan dari sumber energy, tentu saja disain yang efektif dari segi penerangan, penghawaan dan penggunaan peralatan akan memiliki konsumsi energy yang hemat, dengan begitu akan meringankan beban supply energy yang dialirkan. Akan sangat lebih baik lagi jika bangunan di disain untuk dapat men-supply energy-nya sendiri. Misalnya dengan penggunaan solar cell, memanfaatkan energy matahari. Energi matahari diserap melalui solar panel yang diletakkan diatas bangunan lalu disimpan dan diubah menjadi energy untuk mengalirkan listrik ke bangunan. Kami pernah mencoba untuk menggunakan system ini pada salah satu proyek namun sangat disayangkan untuk saat ini di Indonesia memakan biaya investasi yang sangat besar namun return of investment yang lama secara ekonomis. Sedangkan di negara lain sangat memungkinkan kelebihan energy yang didapat dari penggunaan solar cell/panel ini dapat di supply (jual) kepada negara, atau pada saat supply energy matahari kurang secara otomatis di supply tambah dari PLN.
Untuk itu diperlukan kejelian, kepekaan dan kreatifitas arsitek dalam mendisain bangunannya. Arsitek harus jeli melihat hal-hal yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan pencahayaan dan penghawaan yang baik untuk bangunannya, peka terhadap isu-isu konsumsi energy dan menghadirkan solusi dalam kemasan estetik yang baik dengan kreatifitasnya.
Sayang sekali kami belum bisa menampilkan produk-produk yang dapat mendukung konsep-konsep diatas atau memaparkan lebih detail karena blog ini masih dalam tahap pengembangan. Ke depan kami akan lengkapi dengan link-link yang berkaitan dengan tema artikel. Untuk informasi, diskusi atau konsultasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami langsung atau merespon artikel ini. Terima kasih

Tidak ada komentar: