Sabtu, 12 Juli 2008

Konsultan,Kontraktor & Pemborong?

Ketika anda memutuskan akan membuat sesuatu, baik itu rumah,taman, interior atau apapun, tentunya anda akan membutuhkan bantuan professional untuk mewujudkannya. Seperti kita tahu perwujudan ini kemudian harus melalui beberapa proses, yaitu perencanaan lalu pelaksanaan.
Perencanaan merupakan proses awal yang menerjemahkan keinginan tersebut menjadi sebuah konsep yang kemudian di manifestasikan dalam sebuah rancangan agar dapat dilaksanakan. Kita ambil ilustrasi membangun rumah; yang pertama kita lakukan adalah mencari arsitek untuk menerjemahkan keinginan anda dalam sebuah rancangan. Bidang inilah yang disebut sebagai jasa konsultan. Konsultan, dalam hal ini arsitek atau bironya akan mengolah data anda tersebut menjadi sebuah konsep. Setelah konsep tersebut telah sesuai dengan maksud, kemudian dilanjutkan dalam proses yang lebih bersifat teknis agar dapat dilaksanakan. Proses ini kemudian melibatkan berbagai macam bidang, seperti struktur, mep, estimator, interior, landscape dan beberapa bidang lain sesuai dengan kebutuhan permasalahan yang dihadapi. Output-nya adalah sebuah rancangan yang akan memandu pihak pelaksana untuk mewujudkan ide tersebut.
Kemudian kita masuk pada tahap pelaksanaan dimana ide tersebut akan direalisasikan. Siapakah yang dapat melaksanakan hal tersebut?Kontraktor adalah bidang usaha yang bergerak melakukan kontrak untuk membangun hasil rancangan. Namun perlu kita mengerti kontraktor sebenarnya adalah sebuah organisasi yang mengatur atau mengkoordinasi pelaksanaan rancangan. Ia mengatur supply material, pengadaan tenaga kerja, cash flow, pengaturan jadwal, koordinasi dengan konsultan dan owner serta mengawasi jalannya proyek agar kualitas dan kuantitasnya tetap terjaga dengan baik. Untuk itu kontraktor membawahi beberapa tim, antara lain supplier untuk pengadaan material, sub-kontraktor untuk bidang-bidang pekerjaan khusus, pengawas yang akan mengkoordinasi jalannya pekerjaan, surveyor yang akan mengontrol kualitas dan kuantitas dan pemborong yang melaksanakan pekerjaan fisik.
Disini sering terjadi kerancuan bagi awam mengenai pemahaman beda antara kontraktor dengan pemborong. Dari luar akan terlihat sama karena organisasi dilapangan tidak mudah dipahami awam, yang terlihat hanya sebuah kegiatan membangun. Kontraktor, sebagaimana uraian diatas lebih kearah manajemen dan memegang tanggung jawab penuh atas berjalannya sebuah proyek. Sedangkan pemborong adalah pihak yang melaksanaan pekerjaan tersebut. Kontraktor memborongkan pekerjaan pelaksanaan proyek kepada pihak pemborong. Pemborong biasanya terdiri dari beberapa tim yang dikepalai mandor.
Perlu dipahami bahwa Konsultan, Kontraktor dan Pemborong adalah pihak-pihak professional yang memiliki bidang dan visi kerja masing-masing, terlepas dari bahwa masing-masing mengklaim mampu mengerjakan pekerjaan pihak lain. Bagaimanapun seorang atau sebuah biro yang professional adalah yang focus pada bidang profesi yang digelutinya dan tidak menjadi generalis.

Senin, 09 Juni 2008

Bangunan Hemat Energi

Hemat energy…sadar atau tidak arsitektur, dalam hal ini operasional bangunan, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam konsumsi energy. Dan keputusan disain yang dilakukan oleh seorang arsitek menentukan boros atau tidaknya konsumsi tersebut. Apa saja konsumsi energy dalam sebuah bangunan. Yang pertama adalah penerangan, penerangan bisa didapat secara alami atau buatan. Alami artinya arsitek memutuskan disain bangunannya dapat memasukkan cahaya alami siang hari sebesar yang dibutuhkan kegiatan di dalamnya, biasanya dengan jendela, skylight, dll. Buatan tentu saja menggunakan listrik, berupa lampu-lampu sesuai kebutuhan kegiatan di dalamnya, sesuai kegiatan di dalamnya artinya tidak berlebihan prioritas adalah fungsi kemudian dipadukan dengan estetis. Yang kedua suhu, menjaga kestabilan suhu di dalam bangunan sesuai dengan tingkat kenyamanan yang diinginkan. Bisa dilakukan denganpenggunaan material yang menyerap panas sehingga suhu di dalam bangunan tidak panas pada siang hari atau sebaliknya. Kenyamanan ini juga di dapat dengan aliran udara yang baik. Aliran udara yang baik artinya mengalir menembus bangunan,salah satu usaha untuk membuat kondisi ini adalah dengan bukaan-bukaan. Yang ketiga penggunaan alat-alat rumah tangga. Sarana hiburan seperti tv, audio video, dll atau life support seperti lemari es, kompor listrik, pemanas air,dll. Point ini membutuhkan kedisiplinan pengguna bangunan untuk efisiensi operasional bangunan.
Namun begitu hal-hal yang saya sebutkan diatas tidak berarti menjadi anti terhadap barang-barang tersebut atau anti teknologi. Teknologi digunakan secara tepat guna, penerangan buatan tetap kita perlukan namun benar-benar digunakan pada saat dibutuhkan, lalu perletakannya dengan memikirkan estetik,jadi kita tidak membuat panggung pertunjukan di rumah kita, begitu pula AC membantu hanya disaat-saat tertentu kita aliran udara sedang tidak baik atau panas yang berlebihan, dan banyak lagi.
Sedangkan dari sumber energy, tentu saja disain yang efektif dari segi penerangan, penghawaan dan penggunaan peralatan akan memiliki konsumsi energy yang hemat, dengan begitu akan meringankan beban supply energy yang dialirkan. Akan sangat lebih baik lagi jika bangunan di disain untuk dapat men-supply energy-nya sendiri. Misalnya dengan penggunaan solar cell, memanfaatkan energy matahari. Energi matahari diserap melalui solar panel yang diletakkan diatas bangunan lalu disimpan dan diubah menjadi energy untuk mengalirkan listrik ke bangunan. Kami pernah mencoba untuk menggunakan system ini pada salah satu proyek namun sangat disayangkan untuk saat ini di Indonesia memakan biaya investasi yang sangat besar namun return of investment yang lama secara ekonomis. Sedangkan di negara lain sangat memungkinkan kelebihan energy yang didapat dari penggunaan solar cell/panel ini dapat di supply (jual) kepada negara, atau pada saat supply energy matahari kurang secara otomatis di supply tambah dari PLN.
Untuk itu diperlukan kejelian, kepekaan dan kreatifitas arsitek dalam mendisain bangunannya. Arsitek harus jeli melihat hal-hal yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan pencahayaan dan penghawaan yang baik untuk bangunannya, peka terhadap isu-isu konsumsi energy dan menghadirkan solusi dalam kemasan estetik yang baik dengan kreatifitasnya.
Sayang sekali kami belum bisa menampilkan produk-produk yang dapat mendukung konsep-konsep diatas atau memaparkan lebih detail karena blog ini masih dalam tahap pengembangan. Ke depan kami akan lengkapi dengan link-link yang berkaitan dengan tema artikel. Untuk informasi, diskusi atau konsultasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami langsung atau merespon artikel ini. Terima kasih

Jumat, 30 Mei 2008

"(modern) minimalis"


Beberapa tahun belakangan ini kata “bangunan minimalis” atau “disain minimalis” atau “arsitektur minimalis” atau “modern minimalis” dan embel-embel minimalis-minimalis lainnya akrab sekali dalam perbincangan arsitektur, bahkan ada juga arsitek yang meng”klaim” dirinya sebagai spesialis (modern) minimalis. Lalu banyak bangunan yang kemudian di beri label “minimalis” oleh pemilik atau arsiteknya. Bahkan developer-developer baik kecil maupun besar juga tidak ketinggalan mencantumkan promo bahwa cluster-nya memiliki disain (modern) minimalis.
Yang agak lucu (menurut saya) sebagian besar bangunan-bangunan atau disain yang di labeli “(modern) minimalis” sebenarnya tidak minimalis. Ada kecenderungan saat ini bahwa; kalau bangunan tersebut (asal) bergaris-garis, (asal) berwarna abu-abu, (asal) ada unsure kotaknya dan (asal-asal) lainnya maka itulah bangunan (modern) minimalis.
Menyedihkan memang karena ternyata sebagian besar arsitek tidak memahami betul mengenai konsep yang dikatakan minimalis, sehingga penyampaian ke klien yang notabene awam kemudian menjadi salah dan akhirnya mengakibatkan kekacauan. Sebagian besar bangunan-bangunan yang di labeli “(modern) minimalis “ itu jauh sekali dari kaidah yang disebut minimalis.
Minimalis seperti arti harafiahnya, berarti melakukan sebuah simplifikasi bahkan me-reduce elemen-elemen yang dirasa tidak perlu. Lebih kea rah fungsi dan kesederhanaan. Warna yang digunakan tidak banyak malah cenderung monochrome, tidak banyak jenis material yang digunakan,cenderung satu tone, bahkan jika ada beda jenis bahan, maka perbedaan hanya akan terlihat melalui texture, warna tetap sama. Hingga masuk sampai ke interior. Interior akan terkesan sepi dan dingin, tidak banyak elemen yang di pajang. Saya tidak akan mungkin memberikan uraian panjang lebar mengenai teori minimalis, namun hanya berusaha memberikan kritik dan info sedikit mengenai konsep ini sehingga kita tidak akan salah dalam men-justifikasi ataupun menilai suatu bangunan. Mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk melihat secara nyata seperti apakah bangunan minimalis itu? Untuk kasus Indonesia silahkan anda merujuk ke bangunan-bangunan karya arsitek Anthony Liu dan Ferry Ridwan pada tahun-tahun sebelum 2006. Itu adalah contoh bangunan minimalis yang menurut saya minimalis betulan.
Satu lagi yang lucu menurut saya, kata minimalis ini kemudian malah di kawinkan dengam berbagai macam model konsep lagi, contoh yang paling sering adalah; “modern minimalis”. Menurut sejarahnya minimalis termasuk dalam gerakan modernisasi, minimalis sendiri sudah pasti bentukan modern, lalu apanya lagi yang di modern-kan? Lalu baru-baru ini saya melihat di salah satu media ada yang meng-klaim rumahnya bergaya “pop-art minimalis”. Pop art berjalan dan memiliki konsepnya sendiri yang saya rasa bertolak belakang dengan konsep minimalis, lalu apanya yang minilais dari sebuah pop-art? Dan banyak lagi yang lainnya.
Akhirnya yang mengganggu sekali buat saya adalah seringkali ketika saya mempresentasikan portfolio saya ke calon klien, dengan antusias mereka mengatakan” wah bangunan anda minimalis ya” hanya karena pada bangunan tersebut terlihat ada batu alam atau texture dll, yang menurut mereka adalah minimalis, akhirnya dengan mati-matian dan susah payah saya meyakinkan mereka saya bukan arsitek yang mendalami minimalis saya punya konsep sendiri yang selalu saya kaitkan dengan kondis tropis…
Terima kasih

Kamis, 29 Mei 2008

jasa arsitek





blog ini ditujukan untuk mempermudah bagi mereka yang ingin menggunakan jasa arsitek, mulai dari mencari informasi mengenai jasa, portfolio hingga fee disain. calon klien dapat lebih dulu mempelajari tentang cara dan hubungan kerja serta portfolio kami.


blog ini juga dapat menjadi forum diskusi atau konsultasi gratis bagi mereka yang ingin berkonsultasi seputar permasalahan rumah, lingkungan atau arsitektur. kami akan melayani setiap pertanyaan anda secara professional.


kepada klien kami, blog ini juga dapat menjadi sarana komunikasi seputar jalannya proyek.


karena ini pertama kalinya kami membuka diri kepada publik, sedikit kami perkenalkan mengenai konsultan rwm-architect(design studio)


rwm adalah singkatan dari reza w. martunus, didirikan tahun 2002, oleh reza w. martunus & cynthia d. saraswati. proyek yang telah ditangani beragam mulai dari rumah tinggal, bangunan komersil, interior dan landscape serta sayembara. proyek yang kami tangani juga tersebar di berbagai daerah di jabodetabek, jawa & bali.


reza w. martunus sendiri pernah mendapatkan penghargaan IAI award tahun 2002 untuk proyek masjid Nurul Huda di Tomang-Jakarta Barat, bersama PT. Lumintu Reka Bangun Griya untuk kategori bangunan peribadatan, melalui konsep mendobrak kebiasaan lama tentang masjid. Masjid ini juga sempat di nominasikan ke ARCASIA Award 2003 dan Aga Khan Award 2004. Kami juga sempat menjadi honourable mentioned pada sayembara JPO & Halte Busway 2002. sejauh ini beberapa proyek kami juga sempat di publikasikan oleh Majalah Idea. Juga menjadi narasumber pada beberapa media.


Mohon di maklumi kami jika ada kekurangan informasi dalam blog ini, karena kami sedang dalam proses mengumpulkan materi dan membangun blog ini. Jika anda berminat untuk mengetahui lebih jauh mengenai kami silahkan menghubungi kontak kami dibawah halaman blog ini.


terima kasih


reza & tya


ps. silahkan tulis kontak anda baik telephone maupun e-mail jika ingin kami hubungi.